Ringkasan
Dalam tafsir mimpi Islami, Menulis dalam mimpi menurut Ibnu Sirin dan An-Nabulsi adalah lambang yang berbilang wajahnya: perjanjian yang pemimpi tetapkan, atau ilmu yang ia pindahkan kepada manusia, atau urusan yang ia gambar untuk dirinya sehingga ia menetap padanya, sebagaimana disebut An-Nabulsi dan Ibnu Sirin. Mimpi ini umumnya dianggap kabar baik, dengan rincian berbeda menurut warna simbol, gerakannya, dan keadaan pemimpi.
Rujukan Al-Qur'an & Hadis
"Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya."
Ayat ini dari awal apa yang diturunkan dari Al-Qur'an kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam menjadikan pena dan menulis sebagai dua alat pengajaran Allah kepada manusia. Atas dasar ini para ulama tafsir membangun bahwa menulis dalam mimpi adalah tanda perjanjian yang ditetapkan, atau ilmu yang berlaku atas pemimpi, atau urusan yang ia gambar untuk dirinya sehingga ia menetap padanya. Siapa yang melihat dirinya menulis tulisan yang benar — tulisannya jelas dan huruf-hurufnya tegak — Allah telah menulis baginya dalam apa yang ia masuki berupa urusan kebaikan yang langgeng.
Makna Simbolis
Menulis dalam mimpi menurut Ibnu Sirin dan An-Nabulsi adalah lambang yang berbilang wajahnya: perjanjian yang pemimpi tetapkan, atau ilmu yang ia pindahkan kepada manusia, atau urusan yang ia gambar untuk dirinya sehingga ia menetap padanya. Dasar Qurani dalam tafsirnya adalah firman Allah Taala dalam awal yang turun dari Al-Qur'an "Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan... Yang mengajar dengan pena, mengajar manusia apa yang tidak ia ketahui" (Al-‘Alaq: 1-5), maka Allah menjadikan pena sebagai alat pengajaran manusia. Atas dasar ini penulis ditafsirkan sebagai orang berilmu, menulis sebagai ilmu yang bermanfaat, dan apa yang ditulis berupa perjanjian dalam mimpi sebagai apa yang melekat pada pemimpi dalam keadaan terjaganya.
Dimensi Spiritual
Menurut Ibnu Sirin: Menulis dalam mimpi adalah tanda perjanjian yang ditetapkan atau ilmu yang berlaku atas pemimpi. Siapa yang melihat dirinya menulis tulisan yang benar — tulisannya jelas dan huruf-hurufnya tegak — Allah telah menulis baginya dalam apa yang ia masuki berupa urusan kebaikan yang langgeng, berdasarkan awal yang Allah turunkan dari Al-Qur'an "Yang mengajar dengan pena".
Pertanda yang Harus Diwaspadai
Menurut An-Nabulsi: Menulis dengan huruf yang miring, atau menulis dengan tangan kiri, atau menulis di kertas yang robek, adalah tanda perjanjian yang dibatalkan, atau urusan yang dimasuki pemimpi dengan cara yang tidak lurus. Siapa yang menulis sebuah tulisan kemudian menghapusnya, telah menyesal atas perjanjian yang sebelumnya ia berikan.
Tempat Para Ulama Berbeda Pendapat
Berikut adalah hal-hal yang pendapat para ulama berbeda; kedua pendapat disebutkan beserta penyandangnya agar pembaca dapat merenungkan konteks.
Secara umum
Ibnu Sirin — Menulis dalam mimpi adalah tanda perjanjian yang ditetapkan atau ilmu yang berlaku atas pemimpi. Siapa yang melihat dirinya menulis tulisan yang benar — tulisannya jelas dan huruf-hurufnya tegak — Allah telah menulis baginya dalam apa yang ia masuki berupa urusan kebaikan yang langgeng, berdasarkan awal yang Allah turunkan dari Al-Qur'an "Yang mengajar dengan pena".
An-Nabulsi — Menulis dengan huruf yang miring, atau menulis dengan tangan kiri, atau menulis di kertas yang robek, adalah tanda perjanjian yang dibatalkan, atau urusan yang dimasuki pemimpi dengan cara yang tidak lurus. Siapa yang menulis sebuah tulisan kemudian menghapusnya, telah menyesal atas perjanjian yang sebelumnya ia berikan.
Bagaimana Para Ulama Menafsirkan Simbol Ini
An-Nabulsi
An-Nabulsi menggabungkan metode periwayatan Ibnu Sirin dengan metode isyarah sufi. Ia menyusun simbol secara leksikal, menyebutkan pendapat-pendapat terdahulu sebelum menambahkan pertimbangan sufistik atau catatan halus. Ia memberi bobot lebih pada keadaan pemimpi, niatnya, dan tempat mimpi.
Ibnu Sirin
Metode Ibnu Sirin mengaitkan simbol-simbol pertama-tama dengan Al-Qur'an, Sunnah, dan bahasa Arab; kemudian dengan peribahasa dan syair; lalu dengan keadaan pemimpi. Ia menyampaikan tafsir ringkas yang berpijak pada nash, dan menegaskan bahwa mimpi berbeda dari satu orang ke orang lain menurut keadaan dan zaman.
Sikap Praktis — Apa yang Harus Dilakukan Setelah Mimpi Ini
Saat mimpi tentang Menulis memiliki beberapa kemungkinan, dianjurkan untuk berhati-hati dan ber-istikharah sebelum membangun keputusan di atasnya:
- Pemimpi tidak terburu-buru pada satu tafsir, melainkan mengumpulkan petunjuk: keadaannya, keadaan keluarganya, waktu, tempat mimpi, dan kejelasannya. Karena tafsir adalah anak konteks sebagaimana dikatakan para imam tafsir.
- Dianjurkan bertanya kepada ahli ilmu dan pengalaman dalam tafsir mimpi. Nabi ﷺ bersabda: "Janganlah mimpi diceritakan kecuali kepada orang berilmu atau pemberi nasihat." Terburu-buru kepada penafsir yang tidak terverifikasi dapat menimbulkan kebingungan yang tidak perlu.
- Hamba mengerjakan shalat istikharah pada setiap perkara penting, dan tidak mengaitkan keputusannya pada mimpi semata. Istikharah adalah sunnah yang tetap bagi yang mencari kebaikan dari Allah dalam urusannya.
- Hamba senantiasa berdzikir kepada Allah dan beristighfar, karena itu membersihkan hati dan menampakkan kebenaran kepada pemimpi. Ibnu Sirin berkata: "Yang paling jujur mimpinya adalah yang paling jujur ucapannya."
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa arti mimpi Menulis menurut Islam?
Menulis dalam mimpi menurut Ibnu Sirin dan An-Nabulsi adalah lambang yang berbilang wajahnya: perjanjian yang pemimpi tetapkan, atau ilmu yang ia pindahkan kepada manusia, atau urusan yang ia gambar untuk dirinya sehingga ia menetap padanya. Dasar Qurani dalam tafsirnya adalah firman Allah Taala dalam awal yang turun dari Al-Qur'an "Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan... Yang mengajar dengan pena, mengajar manusia apa yang tidak ia ketahui" (Al-‘Alaq: 1-5), maka Allah menjadikan pena sebagai alat pengajaran manusia. Atas dasar ini penulis ditafsirkan sebagai orang berilmu, menulis sebagai ilmu yang bermanfaat, dan apa yang ditulis berupa perjanjian dalam mimpi sebagai apa yang melekat pada pemimpi dalam keadaan terjaganya.
Apa pandangan Islam tentang mimpi Menulis?
Ibnu Sirin, An-Nabulsi, dan Ibnu Syahin menafsirkan mimpi Menulis dalam kerangka tradisi Islam, berlandaskan Al-Qur'an, Sunnah, dan keadaan pemimpi.
Apakah mimpi Menulis pertanda baik atau buruk?
Tafsir Menulis memuat beberapa kemungkinan tergantung keadaan pemimpi dan konteks mimpi.
Apakah makna Menulis berubah dengan suasana mimpi?
Ya, makna berubah menurut ciri mimpi: kondisi simbol, warnanya, dan gerakannya semuanya menjadi petunjuk yang dimanfaatkan oleh penafsir.
Bagaimana seharusnya bersikap setelah mimpi Menulis?
Bagi seorang mukmin disukai setelah mimpi: memuji Allah jika baik, berlindung dari keburukannya dan tidak menceritakannya jika tidak menyukainya, serta salat istikharah jika menghadapi urusan penting.
Apakah para ulama berbeda pendapat tentang Menulis?
Ya, para ulama berbeda dalam beberapa hal: lihat bagian "Tempat Para Ulama Berbeda Pendapat" di atas untuk melihat kedua pendapat dengan nisbatnya.
Di mana saya bisa menemukan sumber asli tafsir Menulis?
Sumber asli: "Muntakhab al-Kalam fi Tafsir al-Ahlam" oleh Ibnu Sirin, "Ta'tir al-Anam fi Tafsir al-Ahlam" oleh An-Nabulsi, "al-Isyarat fi 'Ilm al-'Ibarat" oleh Ibnu Syahin. Daftar lengkap tersedia di bagian "Referensi & Sumber" di bagian bawah halaman.
Apa pertanda baik dari mimpi Menulis?
Menulis dalam mimpi adalah tanda perjanjian yang ditetapkan atau ilmu yang berlaku atas pemimpi. Siapa yang melihat dirinya menulis tulisan yang benar — tulisannya jelas dan huruf-hurufnya tegak — Allah telah menulis baginya dalam apa yang ia masuki berupa urusan kebaikan yang langgeng, berdasarkan awal yang Allah turunkan dari Al-Qur'an "Yang mengajar dengan pena".
Apa pertanda buruk dari mimpi Menulis?
Menulis dengan huruf yang miring, atau menulis dengan tangan kiri, atau menulis di kertas yang robek, adalah tanda perjanjian yang dibatalkan, atau urusan yang dimasuki pemimpi dengan cara yang tidak lurus. Siapa yang menulis sebuah tulisan kemudian menghapusnya, telah menyesal atas perjanjian yang sebelumnya ia berikan.
Bagaimana penafsiran ulama tentang mimpi Menulis?
Simbol ini disebut oleh An-Nabulsi dan Ibnu Sirin, dan mereka memerinci tafsir dan tingkatan maknanya dalam kitab-kitab mereka yang tercantum di bagian Referensi di bawah halaman.
Apakah ada rujukan Al-Qur'an atau hadis untuk tafsir Menulis?
Ya, Surah al-ʿAlaq 96:4: "Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya."
Kombinasi yang sering muncul dalam mimpi
Simbol-simbol yang sering disebut bersama Menulis dalam kitab tafsir mimpi. Buka halaman masing-masing simbol untuk tafsir tersendirinya.
Mimpi Terkait
Referensi & Sumber
- Abdul Ghani bin Ismail an-Nabulsi (1050 H / 1641 M — 1143 H / 1731 M, Damaskus). Ta'tir al-Anam fi Tafsir al-Ahlam.
Biografi singkat & metodologi
Seorang ulama sufi besar dan fakih mazhab Hanafi, salah satu tokoh terkemuka Damaskus pada abad ke-11 Hijriah. Menggabungkan fiqih, tasawuf, dan ilmu sastra, dan menulis sekitar dua ratus karya. Bukunya tentang tafsir mimpi adalah rujukan ensiklopedis yang menghimpun nukilan para pendahulu dan menambahkan faedah sufi.
An-Nabulsi menggabungkan metode periwayatan Ibnu Sirin dengan metode isyarah sufi. Ia menyusun simbol secara leksikal, menyebutkan pendapat-pendapat terdahulu sebelum menambahkan pertimbangan sufistik atau catatan halus. Ia memberi bobot lebih pada keadaan pemimpi, niatnya, dan tempat mimpi.
- Muhammad ibn Sirin al-Bashri, Abu Bakr (33 H / 654 M — 110 H / 728 M, Basra). Muntakhab al-Kalam fi Tafsir al-Ahlam (Ta'tir al-Anam dinisbahkan kepadanya).
Biografi singkat & metodologi
Seorang tabiin mulia dan ulama tsiqah dari kalangan imam Basra. Tumbuh di bawah asuhan Anas bin Malik, pelayan Nabi ﷺ, dan mengambil ilmu dari sejumlah sahabat. Terkenal dengan kewara'an dan kekuatan hafalan hadis, dan menjadi rujukan dalam tafsir mimpi.
Metode Ibnu Sirin mengaitkan simbol-simbol pertama-tama dengan Al-Qur'an, Sunnah, dan bahasa Arab; kemudian dengan peribahasa dan syair; lalu dengan keadaan pemimpi. Ia menyampaikan tafsir ringkas yang berpijak pada nash, dan menegaskan bahwa mimpi berbeda dari satu orang ke orang lain menurut keadaan dan zaman.
Terakhir ditinjau: — pengkajian editorial berdasarkan sumber Ibnu Sirin, An-Nabulsi, dan Ibnu Syahin.