Ringkasan
Dalam tafsir mimpi Islami, Menangis dalam mimpi adalah kaidah yang diakui di antara kaidah tafsir yang oleh para ulama disebut "kaidah pembalikan" — dan yang masyhur menurut Ibnu Sirin dan An-Nabulsi adalah bahwa menangis dengan diam tanpa suara dan tanpa raungan berujung pada kelapangan dan kegembiraan, sebab jiwa mengeluarkan kesusahannya dalam mimpi sehingga terlihat di dunia jaga dalam keringanan dan rahmat, sebagaimana disebut An-Nabulsi dan Ibnu Sirin. Mimpi ini umumnya dianggap kabar baik, dengan rincian berbeda menurut warna simbol, gerakannya, dan keadaan pemimpi.
Rujukan Al-Qur'an & Hadis
"Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul, kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al-Qur'an) yang telah mereka ketahui."
Ayat ini adalah dasar dalam menafsirkan menangis diam dalam mimpi sebagai rahmat dan kelapangan — Al-Qur'an memuji orang-orang yang menangis ini karena rasa takut, dan menjadikan air mata mereka aliran dari kelembutan hati dan pengetahuan tentang kebenaran. Atas dasar ini Ibnu Sirin membalik menangis diam menjadi kelapangan, berbeda dengan raungan dan teriakan yang dicela oleh syariat.
Makna Simbolis
Menangis dalam mimpi adalah kaidah yang diakui di antara kaidah tafsir yang oleh para ulama disebut "kaidah pembalikan" — dan yang masyhur menurut Ibnu Sirin dan An-Nabulsi adalah bahwa menangis dengan diam tanpa suara dan tanpa raungan berujung pada kelapangan dan kegembiraan, sebab jiwa mengeluarkan kesusahannya dalam mimpi sehingga terlihat di dunia jaga dalam keringanan dan rahmat. Adapun menangis dengan suara keras dan raungan disertai pukulan pipi dan semacamnya, maka ia atas zahirnya: kesusahan yang muncul dalam keadaan terjaga, dan pada sebagian wajah adalah hal yang tidak disukai yang menimpa pemimpi atau orang di sekelilingnya. Menangis karena takut kepada Allah disertai dengan berdzikir kepada-Nya adalah tanda khusus rahmat dan ampunan yang turun sesuai dengan tingkat kekhusyukan.
Dimensi Spiritual
Menurut Ibnu Sirin: Menangis dalam mimpi dengan diam tanpa suara atau raungan berujung pada kelapangan dan kegembiraan, sebab jiwa mengeluarkan kesusahannya dalam mimpi lalu menjadi ringan dalam keadaan terjaga. Setiap kali tangisan itu semakin tenang dan teduh, kelapangan pun semakin dekat dan semakin sempurna.
Pertanda yang Harus Diwaspadai
Menurut An-Nabulsi: Menangis dengan suara keras dan raungan disertai pukulan pipi dan semacamnya dalam mimpi adalah atas zahirnya: kesusahan yang muncul dalam keadaan terjaga, atau berita tidak menyenangkan yang menimpa pemimpi atau orang di sekelilingnya. Setiap kali raungan itu semakin keras, semakin berat pula kekeruhan yang akan datang setelahnya.
Tempat Para Ulama Berbeda Pendapat
Berikut adalah hal-hal yang pendapat para ulama berbeda; kedua pendapat disebutkan beserta penyandangnya agar pembaca dapat merenungkan konteks.
Secara umum
Ibnu Sirin — Menangis dalam mimpi dengan diam tanpa suara atau raungan berujung pada kelapangan dan kegembiraan, sebab jiwa mengeluarkan kesusahannya dalam mimpi lalu menjadi ringan dalam keadaan terjaga. Setiap kali tangisan itu semakin tenang dan teduh, kelapangan pun semakin dekat dan semakin sempurna.
An-Nabulsi — Menangis dengan suara keras dan raungan disertai pukulan pipi dan semacamnya dalam mimpi adalah atas zahirnya: kesusahan yang muncul dalam keadaan terjaga, atau berita tidak menyenangkan yang menimpa pemimpi atau orang di sekelilingnya. Setiap kali raungan itu semakin keras, semakin berat pula kekeruhan yang akan datang setelahnya.
Bagaimana Para Ulama Menafsirkan Simbol Ini
An-Nabulsi
An-Nabulsi menggabungkan metode periwayatan Ibnu Sirin dengan metode isyarah sufi. Ia menyusun simbol secara leksikal, menyebutkan pendapat-pendapat terdahulu sebelum menambahkan pertimbangan sufistik atau catatan halus. Ia memberi bobot lebih pada keadaan pemimpi, niatnya, dan tempat mimpi.
Ibnu Sirin
Metode Ibnu Sirin mengaitkan simbol-simbol pertama-tama dengan Al-Qur'an, Sunnah, dan bahasa Arab; kemudian dengan peribahasa dan syair; lalu dengan keadaan pemimpi. Ia menyampaikan tafsir ringkas yang berpijak pada nash, dan menegaskan bahwa mimpi berbeda dari satu orang ke orang lain menurut keadaan dan zaman.
Sikap Praktis — Apa yang Harus Dilakukan Setelah Mimpi Ini
Saat mimpi tentang Menangis memiliki beberapa kemungkinan, dianjurkan untuk berhati-hati dan ber-istikharah sebelum membangun keputusan di atasnya:
- Pemimpi tidak terburu-buru pada satu tafsir, melainkan mengumpulkan petunjuk: keadaannya, keadaan keluarganya, waktu, tempat mimpi, dan kejelasannya. Karena tafsir adalah anak konteks sebagaimana dikatakan para imam tafsir.
- Dianjurkan bertanya kepada ahli ilmu dan pengalaman dalam tafsir mimpi. Nabi ﷺ bersabda: "Janganlah mimpi diceritakan kecuali kepada orang berilmu atau pemberi nasihat." Terburu-buru kepada penafsir yang tidak terverifikasi dapat menimbulkan kebingungan yang tidak perlu.
- Hamba mengerjakan shalat istikharah pada setiap perkara penting, dan tidak mengaitkan keputusannya pada mimpi semata. Istikharah adalah sunnah yang tetap bagi yang mencari kebaikan dari Allah dalam urusannya.
- Hamba senantiasa berdzikir kepada Allah dan beristighfar, karena itu membersihkan hati dan menampakkan kebenaran kepada pemimpi. Ibnu Sirin berkata: "Yang paling jujur mimpinya adalah yang paling jujur ucapannya."
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa arti mimpi Menangis menurut Islam?
Menangis dalam mimpi adalah kaidah yang diakui di antara kaidah tafsir yang oleh para ulama disebut "kaidah pembalikan" — dan yang masyhur menurut Ibnu Sirin dan An-Nabulsi adalah bahwa menangis dengan diam tanpa suara dan tanpa raungan berujung pada kelapangan dan kegembiraan, sebab jiwa mengeluarkan kesusahannya dalam mimpi sehingga terlihat di dunia jaga dalam keringanan dan rahmat. Adapun menangis dengan suara keras dan raungan disertai pukulan pipi dan semacamnya, maka ia atas zahirnya: kesusahan yang muncul dalam keadaan terjaga, dan pada sebagian wajah adalah hal yang tidak disukai yang menimpa pemimpi atau orang di sekelilingnya. Menangis karena takut kepada Allah disertai dengan berdzikir kepada-Nya adalah tanda khusus rahmat dan ampunan yang turun sesuai dengan tingkat kekhusyukan.
Apa pandangan Islam tentang mimpi Menangis?
Ibnu Sirin, An-Nabulsi, dan Ibnu Syahin menafsirkan mimpi Menangis dalam kerangka tradisi Islam, berlandaskan Al-Qur'an, Sunnah, dan keadaan pemimpi.
Apakah mimpi Menangis pertanda baik atau buruk?
Tafsir Menangis memuat beberapa kemungkinan tergantung keadaan pemimpi dan konteks mimpi.
Apakah makna Menangis berubah dengan suasana mimpi?
Ya, makna berubah menurut ciri mimpi: kondisi simbol, warnanya, dan gerakannya semuanya menjadi petunjuk yang dimanfaatkan oleh penafsir.
Bagaimana seharusnya bersikap setelah mimpi Menangis?
Bagi seorang mukmin disukai setelah mimpi: memuji Allah jika baik, berlindung dari keburukannya dan tidak menceritakannya jika tidak menyukainya, serta salat istikharah jika menghadapi urusan penting.
Apakah para ulama berbeda pendapat tentang Menangis?
Ya, para ulama berbeda dalam beberapa hal: lihat bagian "Tempat Para Ulama Berbeda Pendapat" di atas untuk melihat kedua pendapat dengan nisbatnya.
Di mana saya bisa menemukan sumber asli tafsir Menangis?
Sumber asli: "Muntakhab al-Kalam fi Tafsir al-Ahlam" oleh Ibnu Sirin, "Ta'tir al-Anam fi Tafsir al-Ahlam" oleh An-Nabulsi, "al-Isyarat fi 'Ilm al-'Ibarat" oleh Ibnu Syahin. Daftar lengkap tersedia di bagian "Referensi & Sumber" di bagian bawah halaman.
Apa pertanda baik dari mimpi Menangis?
Menangis dalam mimpi dengan diam tanpa suara atau raungan berujung pada kelapangan dan kegembiraan, sebab jiwa mengeluarkan kesusahannya dalam mimpi lalu menjadi ringan dalam keadaan terjaga. Setiap kali tangisan itu semakin tenang dan teduh, kelapangan pun semakin dekat dan semakin sempurna.
Apa pertanda buruk dari mimpi Menangis?
Menangis dengan suara keras dan raungan disertai pukulan pipi dan semacamnya dalam mimpi adalah atas zahirnya: kesusahan yang muncul dalam keadaan terjaga, atau berita tidak menyenangkan yang menimpa pemimpi atau orang di sekelilingnya. Setiap kali raungan itu semakin keras, semakin berat pula kekeruhan yang akan datang setelahnya.
Bagaimana penafsiran ulama tentang mimpi Menangis?
Simbol ini disebut oleh An-Nabulsi dan Ibnu Sirin, dan mereka memerinci tafsir dan tingkatan maknanya dalam kitab-kitab mereka yang tercantum di bagian Referensi di bawah halaman.
Apakah ada rujukan Al-Qur'an atau hadis untuk tafsir Menangis?
Ya, Surah al-Māʾidah 5:83: "Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul, kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al-Qur'an) yang telah mereka ketahui."
Kombinasi yang sering muncul dalam mimpi
Simbol-simbol yang sering disebut bersama Menangis dalam kitab tafsir mimpi. Buka halaman masing-masing simbol untuk tafsir tersendirinya.
Mimpi Terkait
Referensi & Sumber
- Abdul Ghani bin Ismail an-Nabulsi (1050 H / 1641 M — 1143 H / 1731 M, Damaskus). Ta'tir al-Anam fi Tafsir al-Ahlam.
Biografi singkat & metodologi
Seorang ulama sufi besar dan fakih mazhab Hanafi, salah satu tokoh terkemuka Damaskus pada abad ke-11 Hijriah. Menggabungkan fiqih, tasawuf, dan ilmu sastra, dan menulis sekitar dua ratus karya. Bukunya tentang tafsir mimpi adalah rujukan ensiklopedis yang menghimpun nukilan para pendahulu dan menambahkan faedah sufi.
An-Nabulsi menggabungkan metode periwayatan Ibnu Sirin dengan metode isyarah sufi. Ia menyusun simbol secara leksikal, menyebutkan pendapat-pendapat terdahulu sebelum menambahkan pertimbangan sufistik atau catatan halus. Ia memberi bobot lebih pada keadaan pemimpi, niatnya, dan tempat mimpi.
- Muhammad ibn Sirin al-Bashri, Abu Bakr (33 H / 654 M — 110 H / 728 M, Basra). Muntakhab al-Kalam fi Tafsir al-Ahlam (Ta'tir al-Anam dinisbahkan kepadanya).
Biografi singkat & metodologi
Seorang tabiin mulia dan ulama tsiqah dari kalangan imam Basra. Tumbuh di bawah asuhan Anas bin Malik, pelayan Nabi ﷺ, dan mengambil ilmu dari sejumlah sahabat. Terkenal dengan kewara'an dan kekuatan hafalan hadis, dan menjadi rujukan dalam tafsir mimpi.
Metode Ibnu Sirin mengaitkan simbol-simbol pertama-tama dengan Al-Qur'an, Sunnah, dan bahasa Arab; kemudian dengan peribahasa dan syair; lalu dengan keadaan pemimpi. Ia menyampaikan tafsir ringkas yang berpijak pada nash, dan menegaskan bahwa mimpi berbeda dari satu orang ke orang lain menurut keadaan dan zaman.
Terakhir ditinjau: — pengkajian editorial berdasarkan sumber Ibnu Sirin, An-Nabulsi, dan Ibnu Syahin.