Ringkasan
Dalam tafsir mimpi Islami, Kitab dalam mimpi menurut Ibnu Sirin dan An-Nabulsi adalah lambang dari apa yang manusia jumpai dari amalnya atau ilmunya atau berita yang datang kepadanya, sebagaimana disebut Ibnu Sirin dan An-Nabulsi. Mimpi ini umumnya dianggap kabar baik, dengan rincian berbeda menurut warna simbol, gerakannya, dan keadaan pemimpi.
Rujukan Al-Qur'an & Hadis
"Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya seperti kalung pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari Kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka."
Ayat ini — bersama ayat setelahnya "Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu itu sebagai penghisab terhadapmu" — adalah dasar tafsir kitab dalam mimpi. Al-Qur'an menjadikan kitab sebagai tempat berkumpul apa yang manusia jumpai dari amalnya. Atas dasar ini para ulama tafsir membagi kitab: yang terbuka adalah ilmu yang dipelajari pemimpi, yang tertutup adalah urusan yang berlaku atasnya pada hari ia terbuka, yang ditulis di tangan kanan pemimpi adalah perjanjian yang ia komitkan, dan di tangan kirinya adalah urusan yang seyogyanya ditinggalkan.
Makna Simbolis
Kitab dalam mimpi menurut Ibnu Sirin dan An-Nabulsi adalah lambang dari apa yang manusia jumpai dari amalnya atau ilmunya atau berita yang datang kepadanya; dasar Qurani dalam hal itu adalah firman-Nya "Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya seperti kalung pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari Kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu itu sebagai penghisab terhadapmu". Maka kitab dalam Al-Qur'an adalah tanda amal seseorang yang dicatat atasnya. Atas dasar ini para ulama tafsir membagi kitab pada tiga wajah: ilmu yang dipelajari pemimpi bila ia membaca, urusan tertulis yang berlaku atasnya bila ia mengambil kitab tertutup, dan berita yang datang kepadanya bila dibacakan kepadanya dan ia tidak memahaminya.
Dimensi Spiritual
Menurut Ibnu Sirin: Kitab terbuka dalam mimpi adalah ilmu yang dipelajari pemimpi yang dengannya ia memberi manfaat kepada dirinya dan orang di sekelilingnya. Siapa yang membaca kitab dalam mimpinya dan memahami isinya, mendapat petunjuk yang menuntunnya dalam urusannya. Siapa yang diberi kitab tertutup, telah dibebani urusan yang akan terbuka kepadanya pada hari ia mengetahuinya. Dasar dalam hal itu adalah firman Allah Taala "Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu itu sebagai penghisab terhadapmu".
Tafsir Berdasarkan Keadaan Pemimpi
Bagi penuntut ilmu
Menurut An-Nabulsi: Kitab-kitab dalam mimpi pencari ilmu adalah berkah dalam ilmunya dan kembalinya urusan yang sebelumnya luput darinya. Bila pemimpi mewarisi kitab-kitab, mendapat warisan ilmu dari orang saleh yang meninggal. Bila ia menyalin kitab dengan tangannya, ia mengambil beban memindahkan ilmu yang bermanfaat baginya dan orang setelahnya. Kitab yang terbakar adalah hilangnya ilmu yang sebelumnya ada pada pemimpi.
Bagaimana Para Ulama Menafsirkan Simbol Ini
Ibnu Sirin
Metode Ibnu Sirin mengaitkan simbol-simbol pertama-tama dengan Al-Qur'an, Sunnah, dan bahasa Arab; kemudian dengan peribahasa dan syair; lalu dengan keadaan pemimpi. Ia menyampaikan tafsir ringkas yang berpijak pada nash, dan menegaskan bahwa mimpi berbeda dari satu orang ke orang lain menurut keadaan dan zaman.
An-Nabulsi
An-Nabulsi menggabungkan metode periwayatan Ibnu Sirin dengan metode isyarah sufi. Ia menyusun simbol secara leksikal, menyebutkan pendapat-pendapat terdahulu sebelum menambahkan pertimbangan sufistik atau catatan halus. Ia memberi bobot lebih pada keadaan pemimpi, niatnya, dan tempat mimpi.
Sikap Praktis — Apa yang Harus Dilakukan Setelah Mimpi Ini
Saat mimpi yang baik tentang Kitab, berlaku adab mimpi sahih sebagaimana datang dalam Sunnah:
- Pemimpi memulai dengan memuji Allah atas mimpi tersebut, karena ia adalah kabar gembira dari Allah, sebagaimana datang dalam dua kitab sahih: "Mimpi yang baik dari Allah, dan mimpi buruk dari setan."
- Dianjurkan menceritakannya kepada orang yang dicintai dan dipercaya, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: "Janganlah mimpi diceritakan kecuali kepada orang yang berilmu atau pemberi nasihat", dan tidak menceritakannya kepada yang dengki atau membenci.
- Tidak boleh membangun hukum syariat atau keputusan pasti di atas mimpi, karena tafsir mimpi adalah ilmu probabilitas, bukan kepastian. Mimpi yang baik adalah pendorong untuk berjalan dalam kebaikan, bukan hujjah atas selainnya.
- Hamba memperbanyak doa agar Allah memperlihatkan apa yang dicintai-Nya dalam kebaikan, dan melindunginya dari apa yang dibenci. Di dalamnya terdapat husnudzon kepada Allah dan ketergantungan hanya kepada-Nya.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa arti mimpi Kitab menurut Islam?
Kitab dalam mimpi menurut Ibnu Sirin dan An-Nabulsi adalah lambang dari apa yang manusia jumpai dari amalnya atau ilmunya atau berita yang datang kepadanya; dasar Qurani dalam hal itu adalah firman-Nya "Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya seperti kalung pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari Kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu itu sebagai penghisab terhadapmu". Maka kitab dalam Al-Qur'an adalah tanda amal seseorang yang dicatat atasnya. Atas dasar ini para ulama tafsir membagi kitab pada tiga wajah: ilmu yang dipelajari pemimpi bila ia membaca, urusan tertulis yang berlaku atasnya bila ia mengambil kitab tertutup, dan berita yang datang kepadanya bila dibacakan kepadanya dan ia tidak memahaminya.
Apa pandangan Islam tentang mimpi Kitab?
Ibnu Sirin, An-Nabulsi, dan Ibnu Syahin menafsirkan mimpi Kitab dalam kerangka tradisi Islam, berlandaskan Al-Qur'an, Sunnah, dan keadaan pemimpi.
Apakah mimpi Kitab pertanda baik atau buruk?
Tafsir Kitab dalam mimpi cenderung menjadi kabar baik menurut mayoritas ulama, dengan beberapa peringatan dalam kasus tertentu.
Apakah makna Kitab berubah dengan suasana mimpi?
Ya, makna berubah menurut ciri mimpi: kondisi simbol, warnanya, dan gerakannya semuanya menjadi petunjuk yang dimanfaatkan oleh penafsir.
Bagaimana seharusnya bersikap setelah mimpi Kitab?
Bagi seorang mukmin disukai setelah mimpi: memuji Allah jika baik, berlindung dari keburukannya dan tidak menceritakannya jika tidak menyukainya, serta salat istikharah jika menghadapi urusan penting.
Apa arti mimpi Kitab Bagi penuntut ilmu?
Kitab-kitab dalam mimpi pencari ilmu adalah berkah dalam ilmunya dan kembalinya urusan yang sebelumnya luput darinya. Bila pemimpi mewarisi kitab-kitab, mendapat warisan ilmu dari orang saleh yang meninggal. Bila ia menyalin kitab dengan tangannya, ia mengambil beban memindahkan ilmu yang bermanfaat baginya dan orang setelahnya. Kitab yang terbakar adalah hilangnya ilmu yang sebelumnya ada pada pemimpi.
Di mana saya bisa menemukan sumber asli tafsir Kitab?
Sumber asli: "Muntakhab al-Kalam fi Tafsir al-Ahlam" oleh Ibnu Sirin, "Ta'tir al-Anam fi Tafsir al-Ahlam" oleh An-Nabulsi, "al-Isyarat fi 'Ilm al-'Ibarat" oleh Ibnu Syahin. Daftar lengkap tersedia di bagian "Referensi & Sumber" di bagian bawah halaman.
Apa pertanda baik dari mimpi Kitab?
Kitab terbuka dalam mimpi adalah ilmu yang dipelajari pemimpi yang dengannya ia memberi manfaat kepada dirinya dan orang di sekelilingnya. Siapa yang membaca kitab dalam mimpinya dan memahami isinya, mendapat petunjuk yang menuntunnya dalam urusannya. Siapa yang diberi kitab tertutup, telah dibebani urusan yang akan terbuka kepadanya pada hari ia mengetahuinya. Dasar dalam hal itu adalah firman Allah Taala "Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu itu sebagai penghisab terhadapmu".
Bagaimana penafsiran ulama tentang mimpi Kitab?
Simbol ini disebut oleh Ibnu Sirin dan An-Nabulsi, dan mereka memerinci tafsir dan tingkatan maknanya dalam kitab-kitab mereka yang tercantum di bagian Referensi di bawah halaman.
Apakah ada rujukan Al-Qur'an atau hadis untuk tafsir Kitab?
Ya, Surah al-Isrāʾ 17:13: "Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya seperti kalung pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari Kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka."
Kombinasi yang sering muncul dalam mimpi
Simbol-simbol yang sering disebut bersama Kitab dalam kitab tafsir mimpi. Buka halaman masing-masing simbol untuk tafsir tersendirinya.
Mimpi Terkait
Referensi & Sumber
- Muhammad ibn Sirin al-Bashri, Abu Bakr (33 H / 654 M — 110 H / 728 M, Basra). Muntakhab al-Kalam fi Tafsir al-Ahlam (Ta'tir al-Anam dinisbahkan kepadanya).
Biografi singkat & metodologi
Seorang tabiin mulia dan ulama tsiqah dari kalangan imam Basra. Tumbuh di bawah asuhan Anas bin Malik, pelayan Nabi ﷺ, dan mengambil ilmu dari sejumlah sahabat. Terkenal dengan kewara'an dan kekuatan hafalan hadis, dan menjadi rujukan dalam tafsir mimpi.
Metode Ibnu Sirin mengaitkan simbol-simbol pertama-tama dengan Al-Qur'an, Sunnah, dan bahasa Arab; kemudian dengan peribahasa dan syair; lalu dengan keadaan pemimpi. Ia menyampaikan tafsir ringkas yang berpijak pada nash, dan menegaskan bahwa mimpi berbeda dari satu orang ke orang lain menurut keadaan dan zaman.
- Abdul Ghani bin Ismail an-Nabulsi (1050 H / 1641 M — 1143 H / 1731 M, Damaskus). Ta'tir al-Anam fi Tafsir al-Ahlam.
Biografi singkat & metodologi
Seorang ulama sufi besar dan fakih mazhab Hanafi, salah satu tokoh terkemuka Damaskus pada abad ke-11 Hijriah. Menggabungkan fiqih, tasawuf, dan ilmu sastra, dan menulis sekitar dua ratus karya. Bukunya tentang tafsir mimpi adalah rujukan ensiklopedis yang menghimpun nukilan para pendahulu dan menambahkan faedah sufi.
An-Nabulsi menggabungkan metode periwayatan Ibnu Sirin dengan metode isyarah sufi. Ia menyusun simbol secara leksikal, menyebutkan pendapat-pendapat terdahulu sebelum menambahkan pertimbangan sufistik atau catatan halus. Ia memberi bobot lebih pada keadaan pemimpi, niatnya, dan tempat mimpi.
Terakhir ditinjau: — pengkajian editorial berdasarkan sumber Ibnu Sirin, An-Nabulsi, dan Ibnu Syahin.